• (022) 4203368 - Ext.313

22 Aug

Seperti kita ketahui bersama, sejak tahun 2011, industri batubara dunia (eksplorasi, eksploitasi, perdagangan dll) mengalami tekanan berat. Beberapa perusahaan telah tutup, karena tidak kuat mengatasi ongkos operasional yang makin membesar padahal harga batubara tidak kunjung membaik. Tidak sedikit pelaku industri batubara yang menutup proyeknya, menghentikan ekspansi atau mengurangi produksi.  Sebagai pemasok dan pengkonsumsi batubara terbesar di dunia, untuk pertamakalinya dalam sejarah seratus tahun, produksi batubara china juga turun di tahun 2014 sebesar 2.1%, seperti dilansir oleh Guardian.

Seperti kita ketahui bersama, sejak tahun 2011, industri batubara dunia (eksplorasi, eksploitasi, perdagangan dll) mengalami tekanan berat. Beberapa perusahaan telah tutup, karena tidak kuat mengatasi ongkos operasional yang makin membesar padahal harga batubara tidak kunjung membaik. Tidak sedikit pelaku industri batubara yang menutup proyeknya, menghentikan ekspansi atau mengurangi produksi. Sebagai pemasok dan pengkonsumsi batubara terbesar di dunia, untuk pertamakalinya dalam sejarah seratus tahun, produksi batubara china juga turun di tahun 2014 sebesar 2.1%, seperti dilansir oleh Guardian.

Apa penyebab yang paling mendasari kejatuhan industri ini? Tentunya selain harga yang terus turun?

Seperti yang dilansir Shahindra (2015), melihat dari persfektif kacamata strategi, memang industri batubara mengalami penurunan dramatis. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa industri ini mengalami tekanan.

Point pertama adalah adanya produk substitusi. Hampir seluruh produksi batubara hanya digunakan untuk pembangkit listrik. Dulu harga batubara masih bersaing dengan gas. Sayangnya sekarang harga gas bisa lebih rendah, terlebih setelah revolusi shale gas dan shale oil, yang dipelopori oleh Amerika sehingga mendorong produksi gas besar-besaran dan menurunkan harga jual gas, termasuk harga minyak mentah karena pasokan yang melimpah. Dalam hal ini, pembangkit listrik mulai mengganti pasokan energi dari batubara dengan gas. Dengan demikian, harga batubara yang memiliki korelasi positif dengan harga minyak dunia ikut turun. Sebagai contoh harga batubara thermal Australia dari rata-rata harga USD 130/MT tahun 2011, sekarang di bulan Maret 2015 menjadi hanya USD 65/MT.

Jatuhnya harga batubara dunia, menimbulkan efek berantai pada rantai pasokan batubara. Otomatis terjadi tekanan terhadap produsen batubara terhadap pihak yang terlibat dalam industri batubara seperti jasa pertambangan batubara terkait biaya jasa eksploitasi batubara dan pengupasan tanah (overburden). Efek berantai ini cukup memperberat industri jasa pertambangan batubara, karena produsen menginginkan biaya pengupasan dan eksploitasi lebih rendah dari sebelumnya.

Point kedua adalah bangkitnya pemakaian energi terbarukan terutama dari energi matahari, angin dan lainnya. Dua negara pemakai energi terbesar di dunia, yaitu China dan Amerika sudah memberikan regulasi dan insentif lingkungan terhadap pemakaian energi bersih (clean energy). Batubara memang tidaklah sebersih energi fosil lainnya seperti gas.  Kebijakan ini membuat pengguna energi mulai melimpahkan atau mensubstitusikan energi dari penggunaan batubara ke energi yang lebih murah, lebih bersih atau energi yang ramah lingkungan. Terlebih adanya insentif dari pemerintah. Di Amerika sebelum tahun 2009, energi matahari  atau panel surya belum dianggap.

Namun stimulus dari Department Energi Amerika cukup membantu aplikasi penggunaan energi matahari, terutama di wilayah California di Desert Sunlight dan Topaz, dengan masing-masing memiliki kapasitas 550 MW. Langkah stimulus pemerintah Amerika juga pada akhirnya mendorong perusahaan swasta ikut mendiversikan energinya seperti halnya Apple yang dua minggu lalu berinvestasi USD 850 juta, membeli 130 MW  dari FirstSolar untuk keperluan perusahaan, termasuk data center yang dimilikinya. Procter & Gamble juga telah menginvestasikan USD 200 juta kepada Constellation untuk membangun pabrik biomass yang diharapkan bisa menghasilkan energi 50 MW untuk keperluan pabrik, kantor maupun utilitas lainnya. Ritel terbesar di dunia, WalMart juga telah menginstalasi panel surya di gerai-gerainya, dengan total kumulatif energi dari panel surya mencapai 65 MW.

Industri kesehatan Kaisar Permanente di Amerika  bermaksud membeli sekitar 43 MW energi turbin angin dari Altamont Pass Wind turbine farm,  salah satu pemasok energi besar dari turbin angin di dunia. Google juga berencana  mengambil 43 MW dari Altamont untuk memasok GooglePlex. Ini dilakukan setelah pembaruan besar-besaran turbin angin Altamont oleh NextEra.

Langkah-langkah ini, dengan tujuan jangka panjang akan memberkan penghematan biaya listrik selama 20 – 30 tahun ke depan. Kemajuan teknologi terbarukan pada energi matahari/ panel surya, angin, biomassa terutama untuk skala industri besar, telah memberikan harga cukup kompetitif dibandingkan sumber energy fosil. Industri pengguna energi yang besar seperti teknologi komputer, jasa kesehatan maupun barang ritel konsumsi telah melihat kegunaan untuk beralih ke sumber energi yang lebih efisien, bersih dan hijau.

Apakah ini berarti industri batubara akan mati? Tentunya terlalu jauh untuk mengatakan hal demikian, selama masih ada pembangkit listrik yang menggunakan batubara. Namun melihat tren dan kecenderungan pemakaian energi di masa depan, prospek industri batu bara untuk bangkit kembali seperti pada masa keemasan tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 tidaklah menggembirakan. Perlu langkah-langkah strategis bagi pelaku industri batubara untuk mensikapi hal ini.

Kondisi di Indonesia saat ini, Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit sektor pertambangan seperti contoh di Kalimantan Tengah (Kalteng) hanya mencapai Rp 417 miliar pada Mei 2017. Hal itu lantaran anjloknya harga batu bara di pasar global.

Kepala Perwakilan BI Kalteng Wuryanto menuturkan, sektor pertambangan juga punya kualitas kredit paling rendah dibandingkan sektor lainnya yakni pertanian dan perdagangan.

“Kualitas pembiayaan kredit di sektor ini hanya mencapai 38,22 persen atau senilai Rp 417 miliar,” ujar dia, seperti ditulis Sabtu (8/7/2017).

Angka ini tentu sangat jauh bila dibandingkan kredit pada sektor pertanian dan perdagangan pada Mei 2017. “Untuk kredit pada sektor pertanian mencapai 45,38 persen dengan nilai mencapai Rp 18,29 triliun, sedangkan perdagangan mencapai 13,52 persen dengan nilai Rp 5,44 triliun,” tutur dia

Saat ini,  seperti yang ditulis oleh Wicaksono (2017), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan harga batu bara acuan (HBA) untuk penjualan langsung (spot) pada titik serah penjualan secara Free on Board (FoB) di atas kapal pengangkut sebesar US$ 83,97 per ton. Harga ini berlaku mulai 1 Agustus 2017 hingga 31 Agustus 2017.

Seperti yang dikutip dari situs Direktorat Jenderal Mineral Batubara, Sabtu (19/8/2017), HBA Agustus 2017 naik US$ 5,02 per ton atau naik 6,36 persen dibandingkan dengan HBA Juli 2017 US$ 78,95 per ton. Bila dibandingkan satu tahun sebelumnya (year on year) yang tercatat US$ 58,37 per ton, harga batu bara pada Agustus 2017 naik US$ 25,60 atau naik 43,9 persen.

Harga Batu Bara Acuan ini mengacu pada rata-rata 4 indeks harga batu bara yang umum digunakan dalam perdagangan batubara yaitu Indonesia Coal Index, Platts59 Index, New Castle Export Index, dan New Castle Global Coal Index.

HBA menjadi patokan harga batu bara pada kesetaraan nilai kalor batu bara 6.322 kkal per Kg Gross As Received (GAR), kandungan air (total moisture) 8 persen, kandungan sulphur 0,8 persen as received (ar), dan kandungan abu (ash) 15 persenar.

Berdasarkan HBA selanjutnya dihitung Harga Patokan Batu Bara (HPB) yang dipengaruhi kualitas batu bara, yaitu nilai kalor batu bara, kandungan air, kandungan sulfur, dan kandungan abu sesuai dengan merek dagang utama batubara atau brand yang disebut dengan HPB Batu Bara Marker.

Harga Batu Bara Acuan per bulan pada bulan Januari 2017 hingga Agustus 2017 adalah sebagai berikut.

– Januari 2017 sebesar US$ 86,23 per ton

– Februari 2017 sebesar US$ 83,32 per ton

– Maret 2017 sebesar US$ 81,90 per ton

– April 2017 sebesar US$ 82,51 per ton

– Mei 2017 sebesar US$ 83,81 per ton

– Juni 2017 sebesar US$ 75,46 per ton

– Juli 2017 sebesar US$ 78,95 per ton

– Agustus 2017 sebesar US$ 83,97 per ton

Sedangkan rata-rata Harga Batu Bara Acuan Januari 2017 hingga Agustus 2017 adalah US$ 82,02 per ton.

Sumber

  1. 2015. Dikutip dari laman http://www.theguardian.com/environment/2015/jan/27/china-coal-production-falls-for-first-time-this-century.
  2. 2015. Dikutip dari laman http://www.indexmundi.com/commodities/?commodity=coal-australian&months=60.
  3. 2015. Dikutip dari laman http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-02-11/what-apple-just-did-in-solar-is-a-really-big-deal.
  4. Mercury News. 2015. Dikutip dari laman http://www.mercurynews.com/business/ci_27503195/google-buys-altamont-wind-energy-power-googleplex.
  5. Procter Gambler 2015. Dikutip dari laman http://news.pg.com/press-release/pg-corporate-announcements/procter-gamble-and-constellation-announce-one-nations-large
  6. Kaiser 2015. Dikutip dari laman http://share.kaiserpermanente.org/article/kaiser-permanente-makes-major-wind-and-solar-energy-purchases
  7. 2015. Dikutip dari laman https://ilmusdm.wordpress.com/2015/03/09/apa-penyebab-kejatuhan-industri-batu-bara-di-indonesia-dan-dunia.
  8. 2017. Dikutip dari laman http://bisnis.liputan6.com/read/3016129/harga-batu-bara-turun-kredit-sektor-tambang-lesu-di-kalteng.
  9. 2017. Dikutip dari laman http://bisnis.liputan6.com/read/3063349/harga-batu-bara-naik-jadi-us-8397-per-ton.

 

Leave a Comment